Oleh: Asep Tutuy Turyana | 28 April 2010

SHALATNYA TATA SURYA KITA

SHALATNYA TATA SURYA KITA

(Telaah Q.S. Al Yusuf : 12)

 

 

  1. SEKILAS KISAH NABI YUSUF A.S.

     

    Dari beberapa sumber dikatakan bahwa Nabi Yaqub a.s memiliki 12 (dua belas) orang anak dari ke-empat istrinya. Salah satunya adalah Yusuf, yang merupakan buah hati dari hasil pernikahannya dengan Rahil.

     

    Ke-dua belas anaknya yaitu ; Syam’unn, Lawi, Yahuza, Yasakir dan Zabulon dari pernikahannya dengan Laiya, Yusuf dan Bunyamin dari pernikahannya dengan Rahil serta dari ke-dua istrinya yang lain adalah Dan, Naftali, Jad dan Asyir (Ismail pamungkas ; Riwayat Nabi)

     

    Sejak kecil Yusuf telah menampakkan ahlak yang baik dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, hal inilah yang menjadi salah satu kekaguman ayahnya (Nabi Yaqub a.s) sehingga ia sangat menyayangi Yusuf melebihi anak-anaknya yang lain.

     

    Hal ini tentunya menimbulkan kecemburuan dari saudara-saudara Yusuf yang lain, yang menganggap Nabi Yaqub a.s (ayahnya) pilih kasih terhadap mereka. Sehingga mereka tidak segan-segannya untuk mencelakai Yusuf.

     

    Di suatu malam, Yusuf kecil bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, ia melihat ada sebelas benda angkasa, diantara sebelas benda angkasa tersebut adalah matahari dan bulan. Ke-sebelas benda angkasa itu, semuanya “bersujud” kepada Yusuf.

     

    Ketika pagi tiba, Yusuf bergegas menemui sang ayah, Nabi Yaqub a.s, seorang nabi yang sangat bijaksana sehingga sangat dihormati oleh seluruh keluarga. Yusuf-pun menceritakan mimpinya itu kepada ayahanda tercinta.

     

    “Wahai ayahku! Sungguh malam tadi aku bermimpi melihat sebelas benda angkasa (kaukab, matahari dan bulan), semuanya bersujud kepadaku!” kata Yusuf.

    “Mimpimu indah sekali, nak! Itu bukti sayang Allah swt kepadamu!” jawab Nabi Yaqub a.s

    “Ayah harap, kamu tidak menceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu!” lanjut Nabi Yaqub a.s

    “Baik ayah!” jawab Yusuf.

     

    Itu adalah salah satu kutipan dari kisah Nabi Yusuf a.s, seorang nabi yang mendapat karunia dari Allah swt. Ia adalah seorang pemimpin yang bijaksana, ahli strategi dan memiliki kemampuan untuk melihat kejadian di masa yang akan datang.

     

    Dari kisah Yusuf ini pula kita mendapatkan sebuah “kalimat yang luar biasa” yang keluar dari perkataan Yusuf kecil.

    Yusuf mengungkapkan mimpinya dengan menyebutkan, bahwa kaukab, matahari dan bulan bersujud kepadanya.

     

    Mengapakah Yusuf membuat kesimpulan bahwa mereka (benda angkasa itu) bersujud? Apakah sama sujud mereka/benda angkasa itu ekspresinya dengan sujud kita dalam shalat?

     

    Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan kita coba bahas, serta hal-hal lain yang terkandung dalam kisah mimpi seorang Yusuf kecil.

     

     

  2. MIMPI YUSUF

 

Dalam tulisan ini, akan diuraikan beberapa hal serta alasan, mengapa gerakan shalat yang kita lakukan, ekspresinya seperti yang kita lakukan sekarang dilihat dari sisi sains yaitu ada gerakan ruku’, I’tidal, sujud, duduk diantaa dua sujud dan duduk tasyahud.

 

Penulis berharap tulisan ini sedikit memberikan gambaran yang didasari rasa penasaran penulis terhadap ayat Al Qur’an, khususnya ayat 4 dari Q.S. Yusuf. Bagi penulis ayat ini sangat luar biasa yang bisa mengungkap beberapa hal dari sekian banyak yang selama ini masih menjadi tanda tanya.

 

Ayat ini adalah menjadi pondasi awal untuk mengungkap beberapa fenomena yang terjadi selama ini. Selain itu pengalaman penulis ketika mengajar di sebuah sekolah, banyak sekali pertanyaan para siswa saat itu yang sempat dan hampir tidak bisa dijawab secara logika. Meskipun tidak semuanya aturan/hukum Islam harus dibuktikan secara logika tetapi cukup dengan iman.

 

Beberapa pertanyaan yang sempat terlontar dari para siswa (mereka adalah siswa Sekolah Dasar, kelas 3 dan 4)

 

Mengapa shalat itu gerakannya seperti yang kita lakukan sekarang?

Mengapa shalat gerhana itu ada tambahan dua ruku, jika dua rokaat mengapa tidak seperti shalat shubuh saja?

Mengapa shalat jenazah itu tidak memakai ruku dan sujud?

 

Dan beberapa pertanyaan lain yang membuat penulis semakin penasaran untuk mengungkap jawabannya. Bayangkan pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari anak-anak yang usianya sekitar 9 atau 10 tahunan dan harus mereka fahami alasannya.

Mungkin bagi kita cukup dengan mengungkapkan salah satu hadits Nabi :


 

 

 

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR Bukhori)

 

Artinya, dengan iman saja kita cukup mendapatkan jawabannya, bahwa semua yang dilakukan Rasulullah pasti semuanya atas petunjuk dari Allah swt, jadi kita yakin dan percaya sehingga kita tidak perlu mempertanyakan lagi mengapa seperti itu caranya.

 

Dalam kesempatan kali ini penulis mencoba menelaah Q.S. Yusuf ayat 4, semoga saja uraian nanti akan memberikan informasi yang lebih jelas tentang maksud ayat tersebut dan kaitannya dengan shalat yang kita lakukan saat ini, sehingga diharapkan akan menjadi salah satu hujjah yang bisa diterima, bukan hanya dikalangan umat muslim namun juga para umat lain di luar muslim.

 

Penulis hanya teringat salah satu Hadits Nabi yang berbunyi :

 

 

 

 

 

“Apabila seseorang diantara kalian berijtihad dan hasil ijtihadnya benar, maka dua pahala baginya, namun jika ternyata hasil ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala” (HR Bukhori Muslim)

 

Bagi penulis ijtihad bermakna mencurahkan segenap fikiran dan kemampuan kita untuk menghasilkan sesuatu. Jika upaya kita dalam mencurahkan fikiran dan kemampuan kita ternyata benar, maka akan ada dua pahala yang kita dapatkan, pertama dari niat dan usaha kita dan kedua dari hasil yang kita lakukan bermanfaat bagi orang banyak. Kalaupun ternyata hasil pemikiran dan kemampuan kita salah, minimal kita sudah mendapat pahala dari niat baik kita untuk mewujudkan upaya itu. Semoga saja ini menjadikan salah satu sumbangsih yang bermanfaat bagi kita semua, amiin.

 

Allah swt menceritakan tentang mimpi Yusuf yang terdapat dalam Q.S. Yusuf ayat 4, sebagai berikut :


 

 

 

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya bersujud kepadaku”

(Terjemah DEPAG)

 

Mengapa dalam firman Allah swt tersebut di atas menyebutkan benda – benda

angkasa tersebut bersujud, bagaimanakah bentuk sujud benda-benda tersebut.

Apakah sama ekspresi mereka dengan sujud yang biasa kita lakukan dalam

shalat kita? Dan mengapa pula dalam firman tersebut terungkap bilangan/angka
sebelas, mengapa jumlah/angka sebelas ini muncul?. Apa sebenarnya makna dibalik semua itu?

 

  1. KAUKAB/KAWAKIB ADALAH PLANET-PLANET

 

Apakah sebenarnya “Kaukab” itu?

 

Dari beberapa terjemah/tafsir yang Penulis temukan, kata “Kaukab” sering diartikan dengan bintang, sampai saat inipun penafsiran terhadap ayat tersebut belum mengalami perubahan. Sehingga kisah mimpi Yusuf yang difirmankan Allah swt dalam Q.S. Yusuf ayat 4 tersebut selalu dikatakan bahwa Yusuf bermimpi sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya. Padahal di beberapa ayat, Allah swt menyebutkan kata bintang dengan kata “Najm/An Najm”

    

Jadi penulis berpendapat, Allah swt memberikan informasi kepada kita bahwa “Kaukab/Kawakib” adalah jenis benda langit yang lain dan bukan bintang.

Apalagi dari beberapa penafsiran yang penulis temukan, bahwa seolah-olah jumlah
bintang dalam mimpi Yusuf itu hanya berjumlah sebelas. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa jumlah bintang di alam semesta ini tak terhitung jumlahnya dan Allah swt tidak akan keliru menginformasikan segala sesuatu kepada kita. Semua firman Allah swt itu benar dan mutlak adanya.

 

Bahkan matahari kita pun termasuk dalam golongan bintang, jadi secara logika seandainya “kaukab” itu dimaknai “bintang” mungkin penyebutan “syams” yang berarti matahari tidak akan dicantumkan dalam ayat tersebut.

 

Bintang menurut pengertian ahli astronomi adalah, benda angkasa yang dapat mengeluarkan cahaya sendiri, karena matahari kita pun dapat mengeluarkan cahaya sendiri, maka ia termasuk golongan bintang. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Yunus ayat 5 :


 

 


 

 

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”

 

Dari ayat tersebut di atas dijelaskan bahwa matahari sebagai sumber cahaya karena dapat mengeluarkan cahaya sendiri (bersinar) dan ini adalah salah satu sifat bintang sedangkan bulan hanya memancarkan/memantulkan cahaya (bercahaya) yang diterimanya dari matahari.

 

Menurut penulis, seandainya Allah swt ingin menjelaskan bahwa yang dimaksudnya adalah bintang, tentu akan menggunakan kata “Najm” seperti halnya pada ayat-ayat yang lain yang menjelaskan makna bintang itu sendiri.

 

Bahkan surat ke – 53 adalah Surat An Najm yang artinya Bintang. Dengan demikian kata kaukab dalam Q.S. Yusuf ayat 4 tersebut adalah benda lain selain bintang, yaitu planet.

    
 

 

 

    Sehingga apabila kita memaknai kata “kaukab” ini dengan planet, maka kita

akan lebih memahami makna serta maksud dari ayat tersebut. Bahwa informasi yang disampaikan Yusuf lewat mimpinya adalah gambaran sistem tata surya kita. Hal inilah yang belum dan tidak disadari oleh kita khususnya umat Islam selama ini, karena masih terbelenggu dengan pemaknaan yang kurang jelas.

 

Dengan demikian kita bisa mengetahui, sebenarnya pengetahuan tentang tata surya kita sudah diinformasikan oleh Yusuf (Nabi Yusuf a.s) lewat mimpinya yang disampaikan kepada ayahnya, yaitu Nabi Yaqub a.s.

 

Sehingga pemaknaan dari Q.S. Yusuf ayat 4 adalah sebagai berikut :

 

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas benda angkasa yang terdiri dari “kaukab” (planet), matahari dan bintang, kulihat semuanya bersujud kepadaku”

 

Angka 11 (sebelas) yang diinformasikan Yusuf tidak merujuk pada jumlah kaukab/planet. Apalagi jika kita terjemahkan kaukab dengan bintang (sebelas bintang). Kita ketahui bahwa jumlah bintang di semesta alam ini tidak terhitung jumlahnya. Jadi sangat tidak relevan seandainya kita mengartikan kaukab dengan bintang.

    

Jadi informasi yang disampaikan Yusuf kepada kita (dalam mimpinya) adalah informasi tentang sistem tata surya kita. Kita ketahui bersama bahwa sistem tata surya kita terdiri dari Matahari sebagai pusatnya dan planet-planet yang mengitari matahari (Heliosentris)

Susunan tata surya kita sebagaimana yang kita ketahui adalah :

 

 

Matahari, Merkurius, Venus, Bumi (dan Bulan sebagai satelit bumi), Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.

 

Jumlah total adalah sebelas, sama dengan informasi yang disampaikan Yusuf kepada kita dalam surat Yusuf ayat 4.

 

Dengan demikian pengetahuan tentang sistem tata surya/solar system berawal dari informasi yang disampaikan Yusuf, jauh sebelum orang-orang barat/ilmuwan barat menyampaikan akan hal ini.

 

Inilah yang menjadi landasan awal bagi penulis untuk mengungkap lebih dalam lagi tentang rahasia yang terkandung dalam Q.S. Yusuf ayat 4. Dari pemahaman bahwa kata “kaukab” adalah “planet” maka hal ini menjadi pintu untuk membuka rahasia-rahasia lainnya.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: